Sabtu, 08 September 2012

Ini cerpen! Huehehehe

Udah lama ini, udah dari kelas 5 apa 6 gitu. Ada tugas b.Ind disuruh bikin cerpen bebas, dan akhirnya saya bikin seperti ini :



 Kesenangan Berbuah Petaka

Aku melirik jam tanganku. Jarumnya menunjuk angka delapan. Dengan mantap, aku memegang gagang pintu, menarik nafas panjang, lalu membukanya. Pertanda buruk. Kulihat seorang wanita paruh baya berdaster sedang mondar-mandir di ruang tamu sambil menyilangkan tangannya di dada. Matanya yang tampak khawatir, melotot ketika melihatku berada di ambang pintu.
          “Rudi! Dari mana saja kamu?!”
          Aku tergagap. “Da.. dari…”
          “Ibu tidak mau dengar apapun alasanmu! Cepat pergi ke kamarmu!” perintahnya.
          Kejadian ini terjadi hampir setiap hari. Dan aku ingat persis, bagaimana asal mula dari semua ini, tepatnya waktu kursus mata pelajaranku akan dimulai dua bulan yang lalu.

Saat itu kursusku hampir dimulai. Waktu aku berlari ke tempat kursusku yang jaraknya hanya sekitar 50 meter dari sekolah, Nano dan Gilang, dua berandalan sekolah, menghadangku.
          “Eit, eit, eit… Tuan Sempurna mau pergi kursus nih… Ikutan dong... Hahaha…” kata Nano yang tiba-tiba berdiri di hadapanku.
          “Iya nih. Hei, rasanya kamu berhutang padaku, deh!” ujar Gilang
          Astaga! Aku ingat! Dua hari yang lalu, aku meminjam uang sebesar dua puluh ribu rupiah dari Gilang! Bodohnya aku... Mengapa aku tidak meminjam dari sahabat-sahabatku saja?
          “Jangan diam saja dong! Kenapa? Kaget? Atau karena kamu nggak punya uang? Kalau nggak punya… Kamu harus ikut kami!” kata Gilang, kemudian ia membisikkan sesuatu pada Nano.
          “Ikut kemana?” Tanyaku pada mereka
          “Pokoknya ikut aja, deh!” jawab Nano
          Seperti seekor kerbau yang bodoh, aku mengikuti langkah mereka tanpa tahu apa-apa. Akhirnya, aku sampai di suatu tempat yang belum pernah kukunjungi.
          “Kamu tahu, kan, tujuan kita kesini untuk apa?” Tanya Gilang
          Aku menggeleng, tapi mereka malah tertawa.
          “Dasar Tuan Sempurna, tahunya cuma fisika lah, sejarah lah, biologi lah…” cemooh Nano
          “Untuk apa kita kesini?” tanyaku
          “Main game online! Tahu nggak, sih?”
          Aku berfikir sejenak. Pernah aku membaca di koran, majalah, maupun berita di televisi… Bahwa game online itu merusak! Detik itu juga, aku memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Belum sampai lima langkah, Nano dan Gilang sudah mencegatku.
          “Lho, Tuan Sempurna kok malah pergi? Ya, aku tahu, kamu belum pernah bermain game online, kan? Tapi aku yakin, kamu pasti akan ketagihan!” rayu Gilang
          Sedikit demi sedikit aku mulai terpengaruh perkataan mereka berdua. Akhirnya, aku pun masuk dalam warnet tersebut.
          Setengah jam berlalu, aku tidak sadar bahwa ada kursus hari ini. Aku cepat-cepat mengambil tasku. Tapi, untuk yang kedua kalinya, Nano dan Gilang melarangku pulang. Mereka memaksaku untuk tetap ditempat itu. Aku pun menuruti permintaan mereka. Ya, kuakui, game online itu menyenangkan. Dan seperti kata Gilang, aku mulai ketagihan.
          Akhirnya, waktu kursusku habis untuk bermain game online. Sewaktu akan pulang, Nano mengatakan bahwa besok dia akan bermain game online lagi bersama Gilang dan Ferdi. Aku pun tertarik. Maka aku mengatakan, bahwa besok aku ingin ikut bersama mereka.
          Pukul empat sore, aku sudah sampai di rumah. Ayah dan Ibu tidak mungkin tahu bahwa tadi aku sengaja membolos kursus untuk bermain game online. Lagipula, aku hanya membolos kursus satu kali saja, kok.

          Esoknya, setelah pulang sekolah, aku mencari-cari Nano, Gilang, dan Ferdi yang biasanya duduk-duduk di dekat warung bakso depan sekolah. Tak lama, aku menemukan mereka. Sesuai janji, kami pun pergi ke warnet untuk bermain game online. Selama hampir dua setengah jam, kami bergantian memainkan game online pada satu komputer, karena komputer lainnya sudah terpakai. Aku pun lupa waktu. Sekitar jam lima sore, aku pulang ke rumah. Di jalan, aku memikirkan alasan yang akan kupakai nanti saat ditanya atas keterlambatanku ini.
          “Kenapa pulangnya terlambat, Rud?” Tanya ibuku
          Karena sudah memikirkan alasan yang tepat, aku pun menjawab,
          “Tadi… Ada pembinaan olimpiade matematika, Bu.”
          Ibuku mengangguk. Ia mudah percaya, karena aku adalah anak laki-laki kesayangannya.
          Kebiasaanku bermain game online berlangsung tiap hari. Biasanya aku bermain dengan sahabat baruku, tetapi terkadang juga sendirian. Minimal, aku bermain game online selama dua jam. Tetapi, karena sudah ketagihan, akhirnya aku bisa bermain sampai tujuh jam. Tak jarang, aku sampai membolos sekolah hanya untuk bermain game online.
          Malam itu, aku sedang makan malam bersama keluarga. Ayah pun memulai pembicaraan.
          “Rudi, tadi ayah mendapat telepon dari sekolah. Katanya, sudah beberapa hari ini kamu tidak masuk sekolah.” kata Ayah tegas.
          Aku terkejut. Seketika itu, aku tidak dapat berkata-kata lagi.
          “Jawab, Rud!!” ucapnya lagi. Untuk yang kali ini, nadanya seperti sedang marah.
          Aku pun meninggalkan makananku di meja. Dengan perasaan yang kacau, aku berlari menuju kamar. Kudengar ayah berteriak,
          “Ayah tahu kamu membolos!!!”
          Seketika itu aku langsung mengunci kamarku.

          Beberapa hari kemudian, aku mulai bertingkah laku seperti anak-anak berandalan yang paling berandal. Uang sakuku habis karena aku terlalu sering bermain game online di warnet. Bahkan, uang untuk membayar SPP-ku pun juga kupakai. Ayah dan Ibu sepertinya benci denganku, maka aku tidak bisa meminta mereka menaikkan uang sakuku.
          Seumur hidup, hal paling nekat yang pernah kulakukan adalah, mencuri barang-barang berharga milik ayahku dan ibuku kemudian menjualnya hanya untuk bermain game online. Aku tahu aku salah, tapi aku sangat ingin bermain game online.
          Tiga minggu kemudian, aku menyadari bahwa kehidupan keluargaku telah hancur. Ayah kehilangan surat-surat berharganya, usaha catering Ibu bangkrut karena dikhianati salah satu karyawannya, dan adik perempuanku masuk rumah sakit, terkena penyakit demam berdarah. Sementara aku? Namaku yang semula sangat dikenal di sekolah, sekarang hanyalah secarik kertas buram yang diabaikan.
          Berita buruk selalu menimpa keluarga kami, sampai pada suatu saat, ketika Ayah pulang dari Jombang, mobilnya menabrak pagar pembatas, lalu masuk ke jurang. Nyawanya pun tidak tertolong, meskipun Ibu sudah mengerahkan segala cara untuk menyelamatkan ayah. Air mataku hampir menetes ketika melihat sehelai kain putih menutupi wajah ayah.
          “Dimana senyuman ayah yang setiap hari kita lihat?! Dimana secangkir kopi ayah yang tiap pagi diseruputnya?! Kau mencuri semuanya, Rudi! Semua ini gara-gara kamu…!!!” teriak ibu padaku setelah ayah dimakamkan
          Aku merasa sangat bersalah. Ini semua gara-gara Nano dan Gilang. Mereka yang mengajakkuke jalan yang sesat. Tapi, untuk apa aku berfikir seperti ini? Tak ada gunanya. Aku tidak bisa menutupi kesalahanku dengan cara apapun. Satu-satunya yang bisa kulakukan saat ini adalah, kabur dari rumah. Ya, itu ide yang bagus.
          Berjalan menyusuri rel kereta api pada malam hari adalah sesuatu yang kuinginkan. Dingin yang menusuk membuatku semakin gila. Kau tahu apa keinginanku sekarang? Aku ingin menjadi gila. Itu saja. Dengan begitu, aku tidak akan merasakan hal-hal seperti ini lagi. Tapi, aku merasa bahwa keinginanku tidak akan terkabul. Karena, seketika itu juga, aku melihat cahaya yang sangat terang bersamaan dengan suara mendengung yang keras saat aku menoleh kebelakang. Dan aku tahu itu adalah cahaya dari lampu depan kereta api.


-Tamat-
 
 
Jreng! matek itu endingnya (?)

4 komentar:

SQA : Hello!
Welcome. It's Shofi's blog. So ? Haha. Enjoy! This are the your path; Go To Dashboard? or maybe Follow me! ♫